Asy'ariyah & Maturidiyah

Materi Pembelajaran

Materi

LATAR BELAKANG MUNCULNYA ALIRAN ASY'ARIYAH

Asy'Ariyah adalah nama suatu aliran dalam teologi Islam yang dikenal sebagai aliran Ahli Sunnah dan Jama'ah. Kata Asy'Ariyah diambil dari nama seorang tokoh pendiri aliran ini, yaitu Abu Al-Hasan Al-Asy'ari. Adapun nama lengkapnya adalah Abu Al-Hasan Ali Ibn Ismail Ibn Abu Basyr Ibn Salim Ibn Ismail Ibn Abdullah Ib Musa Ibn Bilal Ibn Abu Burdah Ibn Abu Musa Al-Asy'Ari dan lahir di Kota Basrah (Irak) pada tahun 260 H/873M serta wafat pada tahun 324/935 M, Keturunan Abu Musa Al-Asy'Ari seorang sahabat dan perantara dalam sengketa antara Ali dan Muawiyyah dalam peristiwa tahkim. Pada usia lebih dari 40 tahun, ia hijrah ke Kota Baghdad. Ayahnya adalah seorang yang berpaham ahlussunnah dan ahli hadist. Ayahnya wafat ketika ia masih kecil. Sebelum wafat ayahnya berwasiat kepada seorang sahabatnya yang bernama Zakaria bin Yahya as-Saji agar mendidik Al-Asy'Ari. Ibu Asy'Ari sepeninggal ayahnya menikah lagi dengan tokoh Mu'tazilah yang bernama Al-Juba'i. Berkat didikan ayah tirinya, Asy'Ari kemudian menjadi tokoh Mu'tazilah. Ia sering menggantikan Al-Juba'I dalam perdebatan menentang lawan-lawan Mu'tazilah

Tetapi oleh sebab-sebab yang tidak begitu jelas, walaupun Asy'Ari telah puluhan tahun menganut paham Mu'tazilah akhirnya ia meninggalkan ajaran Mu'tazilah. Pada suatu malam Asy'Ari bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad Saw. Kemudian Nabi mengatakan kepadanya bahwa mazhab ahli hadist-lah yang benar dan paham Mu'tazilah salah. Kemudian sebab lainnya adalah bahwa Asy'Ari berdebat dengan guru sekaligus ayah tirinya, Al-Juba'I dan pada waktu itu Al-Juba'I tidak dapat menjawab tantangan murid. Perdebatan tersebut sebagai berikut :

Asy'Ari        :Bagaimana kedudukan ketiga orang berikut : mukmin, kafir, dan anak kecil di akhirat?

Al-Juba'i       : Yang mukmin mendapat tingkat baik dalam surga, yang kafir masuk neraka, dan yang kecil terlepas dari bahaya neraka.

Asy'Ari        :Kalau yang kecil ingin memperoleh tempat yang lebih tinggi di surge, mungkinkah itu?

Al-Juba'i       : Tidak, yang mungkin mendapat tempat yang baik itu karena kepatuhan kepada Allah. Yang kecil belum mempunyai kepatuhan yang serupa itu.

Asy'Ari        :Kalau anak itu mengatakan kepada Allah : itu bukan salahku. Jika sekiranya  engkau bolehkan aku terus hidup aku akan mengerjakan perbuatan-perbuatan baik seperti yang dilakukan orang mukmin itu.

Al-Juba'i       : Allah akan menjawab :"Aku tahu bahwa jika engkau terus hidup, engkau akan berbuat dosa dan oleh karena itu akan kena hukuman. Maka untuk kepentinganmu Aku cabut nyawamu sebelum engkau sampai kepada umur tanggung jawab."

Asy'Ari        : Sekiranya yang kafir mengatakan : "Engkau ketahui masa depanku sebagaimana engkau mengetahui masa depannya. Apa sebabnya Engkau tidak jaga kepentinganku?"

Disini Al-Juba'i terpaksa diam dan tidak bisa menjawab lagi.

Terlepas dari fakta historis di atas, lebih lanjut dijelaskan oleh Subki bahwa Al-Asy'ari dalam keadaan ragu-ragu dan tidak merasa puas lagi dengan aliran Mu'tazilah yang dianutnya selama ini. Kesimpulan ini diperkuat oleh Riwayat yang mengatakan bahwa Al-Asy'ari mengasingkan diri di rumah selama lima belas hari untuk memikirkan ajaran-ajaran Mu'tazilah. Sesudah itu ia keluar rumah, pergi ke masjid, naik mimbar dan menyatakan :

"Hadirin sekalian, saya selama ini mengasingkan diri untuk berfikir tentang keterangan-keterangan dan dalil-dalil yang diberikan masing-masing golongan. Dalil-dalil yang dimajukan dalam penelitian saya sama kuatnya. Oleh karena itu saya meminta petunjuk kepada Allah dan atas petunjuk-Nya, saya sekarang meninggalkan keyakinan-keyakinan lama dan menganut keyakinan-keyakinan baru yang saya tulis dalam buku-buku ini. Keyakinan-keyakinan lama saya lempar sebagaimana saya melemparkan baju ini."

Dari sini kemudian timbul pertanyaan, "Apakah yang menjadikan Al-Asy'Ari ragu dengan paham Mu'tazilah?". Berbagai tafsiran diberikan untuk menjelaskan hal ini, diantaranya :

  1. Menurut Ahmad Mahmud Subhi, keraguan Asy'Ari timbul karena ia menganut mazhab Syafi'i. Dimana Mazhab Syfi'i ini mempunyai pendapat teologi yang berlainan dengan ajaran-ajaran Mu'tazilah. Misalnya, Mazhab Syafi'I berpendapat bahwa Al-Qur'an tidak diciptakan, tetapi bersifat Qadim dan bahwa Tuhan dapat dilihat di akhirat nanti.
  2. Menurut Hammudah Ghurabah ajaran-ajaran seperti yang diperoleh Al-Asy'Ari dari Al-Juba'I, menimbulkan persoalan-persoalan yang tidak mendapat penyelesaian yang memuaskan, seperti soal mukmin, kafir dan anak kecil tersebut di atas.
  3. Dari kalangan kaum Orientalis, Mac Donald berpendapat bahwa darah Arab Padang Pasir yang mengalir dalam tubuh Al-Asy'Ari yang mungkin membawanya kepada perubahan mazhab itu. Arab Pada Pasir bersifat tradisional dan fatalistis sedangkan kaum Mu'tazilah bersifat rasional dan percaya pada kebebasan dalam kemauan dan perbuatan.

Beberapa teori dan analisis yang dikemukakan terkait alasan keluarnya As'Ary ari Mu'tazilah ini, masih dirasa belum memuaskan dan tidak dapat memberikan kepastian. Akan tetapi, yang jelas Al-Asy'Ari keluar meninggalkan Mu'tazilah ketika golongan ini tengah berada dalam fase kemunduran dan kelemahan. Setelah Al-Mutawakkil mencabut keputusan Khalifah pendahulunya Al-Ma'mun, yang menetapkan Mu'tazilah sebagai aliran resmi negara, kedudukan Mu'tazilah mulai melemah, apalagi setelah al-Mutawakkil memperlihatkan kecenderungan dan dukungannya terhadap pemikiran Ahmad Ibn Hanbal, yang dahulu merupakan lawan berat Mu'tazilah. Dalam suasana kemunduran aliran Mu'tazilah, Al-Asy'Ari keluar meninggalkan Mu'tazilah dan membangun sistem kalam baru yang sesuai dengan paham orang-orang yang berpegang teguh pada Al-Sunnah.

Menu Lainnya